Di banyak desa wisata, kelelahan pengelola adalah cerita yang sering terdengar, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Semangat biasanya tinggi di awal. Rapat berjalan ramai, program disusun dengan antusias, dan mimpi besar tentang desa wisata mulai dibangun. Namun, beberapa bulan kemudian, ritmenya melambat. Aktivitas berkurang, komunikasi tidak seintens dulu, dan beban kerja terasa semakin berat di pundak orang-orang yang sama.
Kondisi ini sering dianggap wajar. Bahkan, ada anggapan bahwa kelelahan adalah bagian dari pengabdian. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, kelelahan pengelola desa wisata bukan sekadar soal stamina atau komitmen individu. Ia adalah gejala dari cara kerja yang tidak dirancang untuk manusia.
Bagian dari Gerakan IFTA
Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Indonesian Fighter Tourism Association (IFTA) dalam membangun pariwisata Indonesia yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal.
Kelelahan Itu Nyata, Tapi Jarang Dibicarakan
Banyak pengelola desa wisata bekerja dalam posisi serba tanggung. Mereka merasa harus selalu siap, selalu hadir, dan selalu menyelesaikan masalah. Ketika mulai lelah, mereka memilih diam. Mengeluh dianggap tidak pantas, apalagi jika statusnya relawan.
Dalam budaya kerja seperti ini, kelelahan sering disembunyikan. Pengelola tetap datang rapat meski sudah kehabisan energi. Tetap menyetujui kegiatan meski tahu kapasitasnya terbatas. Lama-kelamaan, kelelahan ini berubah menjadi kebingungan dan kehilangan arah.
Masalahnya, kelelahan yang tidak dibicarakan tidak pernah ditangani. Ia hanya dipendam sampai akhirnya muncul dalam bentuk penurunan kinerja, konflik kecil, atau mundurnya pengelola secara perlahan tanpa penjelasan.
Ketika Semua Dikerjakan oleh Orang yang Sama
Hampir setiap desa wisata memiliki “orang inti”. Biasanya jumlahnya sedikit, tetapi perannya banyak. Mereka menjadi penggerak utama, penghubung dengan pihak luar, pengatur kegiatan, sekaligus pemadam kebakaran ketika ada masalah.
Pola ini terlihat efektif di awal karena semua berjalan cepat. Keputusan bisa diambil tanpa banyak diskusi. Namun, dalam jangka panjang, ketergantungan pada orang yang sama menciptakan kelelahan struktural. Beban menumpuk, waktu pribadi tergerus, dan rasa tanggung jawab berubah menjadi tekanan.
Ketika orang inti mulai lelah, tidak ada lapisan penyangga. Aktivitas langsung melambat, bahkan berhenti. Desa wisata seolah kehilangan mesin penggeraknya, bukan karena tidak ada potensi, tetapi karena terlalu bergantung pada individu tertentu.
Desa Wisata Dijalankan Seperti Event, Bukan Kerja Harian
Salah satu penyebab kelelahan yang jarang disadari adalah pola kerja berbasis event. Aktivitas desa wisata sering memuncak saat ada acara, kunjungan, atau program tertentu. Di luar itu, ritme kerja tidak jelas.
Pola ini menciptakan siklus yang melelahkan. Saat event datang, pengelola bekerja ekstra tanpa batas waktu yang jelas. Setelah event selesai, tidak ada fase pemulihan atau evaluasi yang terstruktur. Semua kembali sepi sampai ada kegiatan berikutnya.
Tanpa ritme kerja harian yang stabil, pengelola sulit mengatur energi. Mereka selalu berada dalam mode siaga, menunggu momen ramai berikutnya. Dalam jangka panjang, pola ini menguras tenaga dan membuat pekerjaan terasa tidak berkesinambungan.
Ingin Terlibat Lebih Jauh?
IFTA membuka ruang bagi pelaku wisata, komunitas, dan mitra yang ingin terlibat langsung dalam program, kolaborasi, serta penguatan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Tidak Ada Sistem Kecil yang Melindungi Manusia
Sering kali, pembahasan tentang sistem langsung mengarah pada dokumen formal atau SOP yang rumit. Akibatnya, banyak desa wisata memilih berjalan tanpa sistem sama sekali. Padahal, sistem tidak selalu berarti aturan yang kaku.
Sistem kecil justru berfungsi sebagai pelindung manusia. Jadwal sederhana, pembagian peran harian, atau kesepakatan waktu kerja adalah bentuk sistem yang membantu menjaga energi pengelola. Tanpa batasan ini, kerja menjadi tidak terukur dan mudah melampaui kapasitas.
Ketika tidak ada sistem kecil yang berjalan, semua bergantung pada niat baik. Dan niat baik, jika terus-menerus dipaksa bekerja tanpa perlindungan, akan cepat habis.
Bukan Orangnya yang Salah, Tapi Cara Kerjanya
Kelelahan pengelola desa wisata sering disalahartikan sebagai kurangnya komitmen atau lemahnya kepemimpinan. Padahal, dalam banyak kasus, masalahnya terletak pada cara kerja yang tidak dirancang untuk berkelanjutan.
Pengelola bukan mesin. Mereka membutuhkan ritme, batasan, dan rasa aman dalam bekerja. Tanpa itu, semangat sebesar apa pun akan terkikis perlahan. Desa wisata pun kehilangan arah, bukan karena potensi hilang, tetapi karena manusianya kehabisan tenaga.
Memahami kelelahan sebagai masalah struktural membuka ruang untuk melihat desa wisata dengan lebih jujur. Dari sini, pertanyaan yang lebih penting mulai muncul: bagaimana seharusnya pengelolaan desa wisata dirancang agar manusia yang menggerakkannya bisa bertahan?
Punya Pandangan atau Pengalaman Terkait Artikel Ini?
Jika isi artikel ini relevan dengan kondisi di daerah Anda, praktik di lapangan, atau memunculkan pertanyaan strategis, kami membuka ruang diskusi langsung. Beberapa percakapan terbaik justru lahir dari artikel seperti ini.


