Desa Wisata : Pengertian, Tantangan, dan Strategi Pengembangan yang Benar

Kegiatan pelatihan pengelola desa wisata di tingkat desa

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah desa wisata muncul hampir di setiap wilayah Indonesia. Banyak desa mendeklarasikan diri sebagai desa wisata, memasang papan nama, membuka media sosial, bahkan menggelar peresmian dengan penuh harapan. Desa wisata diposisikan sebagai jalan keluar dari stagnasi ekonomi desa, sekaligus instrumen pelestarian budaya dan alam.

Namun, di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibicarakan secara jujur: mengapa hanya sebagian kecil desa wisata yang benar-benar berkembang, sementara sebagian besar lainnya berjalan di tempat atau perlahan menghilang dari perhatian publik.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa persoalan desa wisata bukan terletak pada kurangnya potensi. Indonesia memiliki bentang alam, keragaman budaya, dan kekayaan cerita lokal yang hampir tak tertandingi. Masalah utama justru terletak pada cara desa wisata dipahami dan dikembangkan. Banyak desa wisata dibentuk sebagai program, tetapi tidak dibangun sebagai sistem.

Artikel ini membahas desa wisata secara menyeluruh, mulai dari pengertian dasar, potensi yang sering disalahpahami, tantangan struktural yang dihadapi, hingga strategi pengembangan desa wisata yang lebih realistis dan berkelanjutan. Tujuannya bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk membuka ruang refleksi agar desa wisata tidak berhenti sebagai label, tetapi tumbuh sebagai ekosistem yang hidup.

Bagian dari Gerakan IFTA

Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Indonesian Fighter Tourism Association (IFTA) dalam membangun pariwisata Indonesia yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal.

Apa Itu Desa Wisata dan Mengapa Menjadi Program Nasional

Konsep desa wisata tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari kebutuhan untuk mendekatkan pariwisata dengan masyarakat lokal, sekaligus mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih merata. Dalam konteks Indonesia, desa wisata dipandang sebagai model pembangunan pariwisata yang selaras dengan karakter sosial dan budaya desa.

Pengertian Desa Wisata Menurut Praktik Lapangan

Secara umum, desa wisata dapat dipahami sebagai kawasan pedesaan yang menawarkan pengalaman wisata berbasis kehidupan masyarakat lokal. Pengalaman ini mencakup interaksi sosial, aktivitas budaya, lanskap alam, serta nilai-nilai keseharian yang tidak dapat ditemukan di destinasi wisata massal.

Dalam praktik lapangan, desa wisata bukan hanya tentang objek atau atraksi. Ia adalah tentang bagaimana masyarakat menjadi subjek utama pariwisata. Wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat, tetapi untuk mengalami cara hidup desa, memahami tradisi, dan berpartisipasi secara langsung dalam aktivitas lokal.

Namun, pemahaman ini sering kali menyempit dalam implementasi. Banyak desa wisata direduksi menjadi daftar spot foto, paket acara seremonial, atau agenda event musiman. Ketika desa wisata hanya dipahami sebagai kumpulan atraksi, maka yang hilang adalah esensi utamanya, yaitu sistem sosial dan tata kelola berbasis komunitas.

Tujuan Dibentuknya Desa Wisata oleh Pemerintah

Pemerintah mendorong pembentukan desa wisata dengan berbagai tujuan strategis. Di antaranya adalah peningkatan ekonomi lokal, penciptaan lapangan kerja, pengurangan urbanisasi, serta pelestarian budaya dan lingkungan. Desa wisata juga diharapkan menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengelola potensi secara mandiri dan berkelanjutan.

Dalam kerangka kebijakan, desa wisata diposisikan sebagai alat pembangunan. Program-program pendukung pun digulirkan, mulai dari pelatihan, bantuan infrastruktur, hingga promosi. Secara konsep, pendekatan ini sudah berada di jalur yang tepat.

Namun, tantangan muncul ketika desa wisata diperlakukan sebagai target administratif, bukan sebagai proses transformasi sosial. Ketika indikator keberhasilan hanya berhenti pada jumlah desa wisata yang terbentuk, maka keberlanjutan sering kali terabaikan. Desa wisata menjadi status, bukan perjalanan.

Desa Wisata Sebagai Harapan Ekonomi Lokal

Bagi banyak desa, desa wisata adalah harapan baru. Ia menjanjikan tambahan pendapatan, peluang usaha, dan kebangkitan ekonomi lokal. Tidak sedikit masyarakat desa yang melihat pariwisata sebagai alternatif dari sektor pertanian atau pekerjaan informal yang semakin tidak menentu.

Harapan ini sah dan wajar. Namun, harapan tanpa kesiapan sering kali berubah menjadi kekecewaan. Ketika wisatawan tidak datang sesuai ekspektasi, atau ketika kegiatan wisata hanya ramai di awal, masyarakat mulai mempertanyakan nilai desa wisata itu sendiri.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa desa wisata bukan solusi instan. Ia bukan mesin uang yang bisa langsung bekerja setelah peresmian. Desa wisata adalah ekosistem yang membutuhkan waktu, pembelajaran, dan pendampingan agar mampu tumbuh secara organik dan berkelanjutan.

Pemandangan desa wisata Indonesia dengan aktivitas budaya dan alam

Ayo Bangun Pariwisata Indonesia Bersama IFTA

IFTA mengundang pemerintah daerah, komunitas, UMKM, pelaku wisata, dan mitra strategis untuk berkolaborasi membangun destinasi baru, memperkuat SDM pariwisata, dan menghadirkan model pengembangan berbasis lokalitas, konservasi, dan keberlanjutan.

Konsultasi Bersama IFTA

Potensi Desa Wisata di Indonesia yang Sering Disalahpahami

Indonesia sering disebut sebagai negeri dengan potensi desa wisata yang nyaris tak terbatas. Dari pegunungan hingga pesisir, dari tradisi agraris hingga ritual budaya, hampir setiap desa memiliki sesuatu yang dapat ditawarkan. Narasi ini tidak keliru, tetapi sering kali disederhanakan secara berlebihan.

Masalah muncul ketika potensi dipahami sebagai sesuatu yang otomatis bernilai jual. Banyak desa wisata dibangun di atas asumsi bahwa keindahan alam, keunikan budaya, atau keramahan masyarakat sudah cukup untuk menarik wisatawan. Padahal, potensi hanyalah bahan mentah. Tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tidak akan pernah berubah menjadi produk wisata yang berkelanjutan.

Alam, Budaya, dan Cerita Lokal

Sebagian besar desa wisata mengandalkan tiga hal utama: alam, budaya, dan cerita lokal. Lanskap sawah, sungai, hutan, tradisi adat, kesenian, hingga narasi sejarah desa sering dijadikan fondasi pengembangan wisata. Ketiganya memang merupakan kekuatan utama desa.

Namun, alam dan budaya bersifat pasif jika tidak diolah. Keindahan alam tidak otomatis menciptakan pengalaman wisata. Tradisi budaya tidak serta-merta menarik jika hanya dipertontonkan tanpa konteks. Cerita lokal pun akan kehilangan makna jika tidak dikemas secara komunikatif.

Banyak desa wisata berhenti pada tahap “kami punya”. Kami punya air terjun, kami punya tari tradisional, kami punya rumah adat. Yang jarang dibahas adalah bagaimana semua itu diterjemahkan menjadi pengalaman yang relevan bagi wisatawan, tanpa merusak nilai asli yang dimiliki desa.

Potensi Tanpa Tata Kelola

Kesalahpahaman berikutnya adalah menganggap potensi bisa berjalan sendiri. Dalam praktiknya, desa wisata membutuhkan tata kelola yang jelas. Siapa yang mengelola, bagaimana pembagian peran, bagaimana alur pelayanan wisatawan, dan bagaimana keuntungan dibagi secara adil.

Tanpa tata kelola, potensi justru menjadi sumber konflik. Tidak sedikit desa wisata yang mengalami friksi internal karena tidak adanya kesepakatan sejak awal. Ada yang merasa bekerja lebih banyak tetapi mendapatkan bagian yang sama. Ada pula yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Situasi ini menunjukkan bahwa potensi alam dan budaya tidak cukup jika tidak diiringi dengan sistem pengelolaan yang transparan dan disepakati bersama. Desa wisata bukan hanya urusan atraksi, tetapi juga urusan organisasi dan kepercayaan sosial.

Ketika Potensi Tidak Berubah Menjadi Produk

Produk wisata berbeda dengan potensi. Produk wisata memiliki bentuk, alur, harga, standar pelayanan, dan target pasar yang jelas. Banyak desa wisata gagal berkembang karena tidak pernah benar-benar memiliki produk.

Yang ada hanyalah aktivitas sporadis. Wisatawan datang jika ada acara tertentu, lalu sepi kembali setelah acara selesai. Tidak ada paket yang konsisten, tidak ada pengalaman yang bisa diulang, dan tidak ada kepastian bagi wisatawan yang ingin datang di luar momentum tertentu.

Di sinilah letak kesenjangan terbesar dalam pengembangan desa wisata. Potensi sering dipuja, tetapi produk jarang dirancang secara serius. Akibatnya, desa wisata sulit bertahan dalam jangka panjang dan sangat bergantung pada promosi sesaat atau bantuan eksternal.

Tantangan Utama Pengembangan Desa Wisata

Hampir semua desa wisata menghadapi tantangan yang serupa, meski berada di wilayah dan konteks yang berbeda. Tantangan ini jarang muncul di dokumen perencanaan, tetapi sangat terasa dalam praktik sehari-hari. Ketika desa wisata tidak berkembang, penyebabnya sering kali bukan karena kurangnya potensi, melainkan karena hambatan struktural yang tidak pernah diselesaikan.

Tantangan-tantangan ini bersifat saling terkait. Satu masalah yang dibiarkan akan memicu masalah lain. Oleh karena itu, memahami tantangan utama pengembangan desa wisata menjadi langkah penting sebelum berbicara tentang solusi.

Keterbatasan SDM Pengelola

Sumber daya manusia adalah fondasi utama desa wisata. Namun, banyak desa wisata dikelola oleh kelompok yang belum pernah memiliki pengalaman mengelola pariwisata. Pengelola sering kali bekerja secara sukarela, dengan keterbatasan waktu dan kapasitas.

Pelatihan memang sering diberikan, tetapi tidak selalu berkelanjutan. Materi pelatihan kerap bersifat umum dan tidak kontekstual dengan kondisi desa. Setelah pelatihan selesai, pengelola kembali pada rutinitas lama tanpa pendampingan lanjutan.

Akibatnya, pengetahuan yang diperoleh tidak terimplementasi secara konsisten. Desa wisata terlihat aktif di awal, tetapi perlahan kehilangan arah karena tidak ada proses belajar berkelanjutan yang mendampingi pengelola dalam praktik nyata.

Ketergantungan pada Event dan Bantuan

Banyak desa wisata hidup dari satu atau dua event besar dalam setahun. Saat event berlangsung, desa terlihat ramai dan produktif. Namun, setelah event selesai, aktivitas wisata berhenti. Pola ini menciptakan ketergantungan yang tinggi terhadap agenda eksternal.

Ketergantungan pada bantuan juga menjadi persoalan serius. Bantuan dana atau fasilitas memang membantu pada tahap awal, tetapi jika tidak diiringi dengan penguatan sistem, desa wisata akan kesulitan mandiri. Ketika bantuan berhenti, kegiatan wisata pun ikut berhenti.

Model pengembangan seperti ini membuat desa wisata rapuh. Ia tidak memiliki mekanisme internal untuk bertahan dan tumbuh tanpa intervensi dari luar.

Lemahnya Sistem Operasional

Desa wisata sering kali tidak memiliki sistem operasional yang jelas. Tidak ada standar pelayanan, tidak ada alur reservasi yang pasti, dan tidak ada pencatatan keuangan yang rapi. Semua berjalan secara informal, mengandalkan komunikasi lisan dan kebiasaan.

Dalam jangka pendek, sistem informal mungkin terasa fleksibel. Namun, ketika jumlah wisatawan meningkat, kelemahan sistem mulai terasa. Kesalahan jadwal, pelayanan yang tidak konsisten, dan kebingungan internal menjadi hal yang sering terjadi.

Tanpa sistem operasional, desa wisata sulit berkembang. Profesionalisme tidak bisa tumbuh jika tidak ada struktur yang mendukungnya.

Tidak Terhubung ke Pasar Nyata

Tantangan terakhir yang sering diabaikan adalah koneksi ke pasar. Banyak desa wisata tidak benar-benar memahami siapa wisatawan mereka. Promosi dilakukan tanpa strategi yang jelas, sekadar mengikuti tren atau meniru desa lain.

Akibatnya, desa wisata sulit menjangkau pasar yang tepat. Wisatawan datang sekali, tetapi tidak kembali. Tidak ada basis pelanggan yang stabil, dan desa wisata terus mengejar pengunjung baru tanpa strategi retensi.

Keterputusan dari pasar ini membuat desa wisata tidak memiliki umpan balik yang cukup untuk berkembang. Tanpa memahami kebutuhan dan perilaku wisatawan, pengembangan desa wisata berjalan tanpa arah yang jelas.

Mengapa Banyak Desa Wisata Tidak Berkembang Meski Sudah Dibentuk

Pertanyaan ini sering muncul dalam berbagai forum dan diskusi. Desa wisata sudah dibentuk, pelatihan sudah dilakukan, bahkan promosi sudah dijalankan. Namun, setelah beberapa waktu, aktivitas wisata meredup dan semangat pengelola melemah. Fenomena ini terjadi di banyak daerah dengan pola yang hampir serupa.

Untuk memahami persoalan ini, penting melihat desa wisata bukan sebagai proyek, melainkan sebagai proses jangka panjang. Banyak desa wisata tidak berkembang bukan karena gagal, tetapi karena dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah yang jelas.

Baca juga artikel

Mengapa Desa wisata sepi pengunjung

Desa Wisata Dibentuk, Tapi Tidak Didampingi

Pembentukan desa wisata sering kali berhenti pada tahap legalitas dan peresmian. Setelah itu, desa diharapkan mampu berjalan mandiri. Dalam praktiknya, hal ini tidak realistis, terutama bagi desa yang baru pertama kali mengelola pariwisata.

Tanpa pendampingan, pengelola desa wisata harus belajar sendiri melalui coba-coba. Kesalahan yang terjadi tidak segera dievaluasi, dan pembelajaran berlangsung secara lambat. Kondisi ini membuat banyak pengelola merasa kelelahan dan kehilangan motivasi.

Pendampingan bukan berarti ketergantungan. Pendampingan adalah proses transfer pengetahuan dan pembentukan kapasitas agar desa mampu berdiri sendiri dalam jangka panjang.

Pelatihan Selesai, Program Berhenti

Pelatihan sering dianggap sebagai solusi utama pengembangan desa wisata. Namun, pelatihan yang bersifat satu kali tidak cukup untuk mengubah cara kerja dan pola pikir. Tanpa praktik berkelanjutan, materi pelatihan akan cepat terlupakan.

Banyak desa wisata memiliki sertifikat pelatihan, tetapi tidak memiliki sistem kerja yang berubah. Program berjalan selama pelatihan berlangsung, lalu berhenti setelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tanpa integrasi ke dalam sistem hanya menghasilkan pengetahuan, bukan perubahan.

Transformasi desa wisata membutuhkan proses belajar yang berulang, terukur, dan relevan dengan kondisi lapangan.

Tidak Ada Roadmap Jangka Panjang

Salah satu penyebab utama stagnasi desa wisata adalah ketiadaan roadmap. Desa wisata sering tidak memiliki gambaran ke mana mereka akan melangkah dalam satu, tiga, atau lima tahun ke depan. Aktivitas dilakukan secara reaktif, mengikuti peluang sesaat.

Tanpa roadmap, setiap pergantian pengurus atau kebijakan dapat mengubah arah desa wisata secara drastis. Konsistensi sulit terjaga, dan visi jangka panjang tidak pernah terwujud.

Roadmap bukan dokumen formal semata. Ia adalah panduan bersama yang membantu desa wisata tetap berada di jalur pengembangan yang disepakati, meski menghadapi perubahan dan tantangan.

Strategi Pengembangan Desa Wisata yang Benar

Setelah memahami berbagai tantangan dan penyebab stagnasi desa wisata, pertanyaan berikutnya adalah tentang strategi. Namun, strategi yang dimaksud di sini bukanlah daftar langkah instan atau resep seragam yang bisa diterapkan di semua desa. Setiap desa memiliki konteks sosial, budaya, dan kapasitas yang berbeda.

Strategi pengembangan desa wisata yang benar adalah strategi yang berangkat dari realitas lapangan, bertahap, dan berorientasi jangka panjang. Fokus utamanya bukan sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi membangun fondasi agar desa mampu mengelola pariwisata secara mandiri dan berkelanjutan.

desa wisata yang berkembang

Penguatan SDM Berbasis Praktik

Pengembangan sumber daya manusia tidak cukup melalui pelatihan di ruang kelas. Pengelola desa wisata perlu belajar melalui praktik langsung, dengan pendampingan yang memungkinkan mereka mengevaluasi dan memperbaiki cara kerja secara berkelanjutan.

Pendekatan berbasis praktik membantu pengelola memahami konteks nyata di lapangan. Mereka belajar dari kesalahan, menerima umpan balik, dan menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan. Proses ini membangun kepercayaan diri dan kapasitas pengelola secara bertahap.

Penguatan SDM juga mencakup pembagian peran yang jelas. Tidak semua orang harus melakukan semua hal. Dengan peran yang terdefinisi, pengelolaan desa wisata menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Pembangunan Sistem, Bukan Sekadar Infrastruktur

Banyak desa wisata fokus pada pembangunan fisik, seperti gerbang, spot foto, atau fasilitas pendukung. Infrastruktur memang penting, tetapi tanpa sistem, infrastruktur tidak akan berfungsi optimal.

Sistem mencakup alur pelayanan, standar operasional, pencatatan keuangan, dan mekanisme evaluasi. Dengan sistem yang jelas, desa wisata dapat menjaga konsistensi pelayanan dan meningkatkan profesionalisme.

Pembangunan sistem membantu desa wisata beradaptasi terhadap perubahan. Ketika pengurus berganti, sistem tetap berjalan. Ketika jumlah wisatawan meningkat, sistem mampu mengakomodasi tanpa kekacauan.

Koneksi Pasar sebagai Kunci Hidup Desa Wisata

Desa wisata tidak bisa tumbuh jika terputus dari pasar. Memahami siapa wisatawan yang ingin dijangkau, apa kebutuhan mereka, dan bagaimana cara menjangkau mereka adalah bagian penting dari strategi pengembangan.

Koneksi pasar bukan hanya soal promosi digital. Ia mencakup kemampuan desa wisata untuk membangun jaringan, bekerja sama dengan pihak lain, dan menyesuaikan produk dengan permintaan pasar. Dengan koneksi yang tepat, desa wisata tidak perlu terus-menerus mencari pengunjung baru dari nol.

Pasar memberikan umpan balik yang berharga. Dari interaksi dengan wisatawan, desa wisata dapat belajar apa yang perlu diperbaiki dan dikembangkan.

Pendampingan Jangka Panjang, Bukan Intervensi Singkat

Strategi terakhir yang sering diabaikan adalah pentingnya pendampingan jangka panjang. Pendampingan membantu desa wisata melewati fase-fase krusial, mulai dari perintisan, penguatan sistem, hingga ekspansi pasar.

Pendampingan yang efektif tidak mengambil alih peran desa, tetapi memperkuat kapasitas internal. Ia memberikan ruang belajar, refleksi, dan adaptasi yang berkelanjutan.

Dengan pendampingan yang konsisten, desa wisata memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara organik dan berkelanjutan, tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatan utamanya.

Desa wisata naik kelas

Desa Wisata Berkelanjutan Bukan Soal Bertahan, Tapi Bertumbuh

Istilah keberlanjutan sering digunakan dalam konteks desa wisata, tetapi maknanya kerap disederhanakan. Berkelanjutan sering dipahami sekadar sebagai kemampuan untuk tetap ada, tetap buka, dan tidak tutup. Padahal, keberlanjutan yang sejati justru menuntut desa wisata untuk terus bertumbuh secara sehat.

Desa wisata yang hanya bertahan tanpa perkembangan akan menghadapi kelelahan sosial, stagnasi ekonomi, dan perlahan kehilangan relevansi. Oleh karena itu, keberlanjutan perlu dipahami sebagai proses dinamis yang melibatkan pembelajaran, adaptasi, dan peningkatan kapasitas secara terus-menerus.

Berkelanjutan secara Sosial

Keberlanjutan sosial berarti desa wisata mampu menjaga kohesi sosial masyarakatnya. Pengelolaan wisata tidak menimbulkan konflik berkepanjangan, kecemburuan, atau ketimpangan peran. Masyarakat merasa dilibatkan, didengar, dan mendapatkan manfaat yang adil.

Dalam desa wisata yang berkelanjutan, pariwisata tidak menggerus nilai lokal, tetapi justru memperkuat identitas desa. Tradisi tidak dipertontonkan secara kosong, melainkan dijaga maknanya melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai pemilik budaya.

Keberlanjutan sosial hanya bisa tercapai jika ada komunikasi terbuka, tata kelola yang transparan, dan ruang musyawarah yang hidup di dalam komunitas desa.

Berkelanjutan secara Ekonomi

Keberlanjutan ekonomi tidak identik dengan jumlah kunjungan yang tinggi. Yang lebih penting adalah stabilitas dan pemerataan manfaat ekonomi. Desa wisata yang berkelanjutan mampu menciptakan sumber pendapatan yang konsisten, meski dalam skala bertahap.

Model ekonomi desa wisata perlu realistis. Tidak semua desa harus mengejar wisata massal. Banyak desa justru lebih cocok dengan pendekatan wisata berbasis pengalaman, dengan jumlah pengunjung terbatas tetapi bernilai lebih tinggi.

Ketika ekonomi desa wisata tumbuh secara bertahap dan terukur, masyarakat akan melihat pariwisata sebagai aktivitas yang layak dijaga dan dikembangkan bersama.

Berkelanjutan secara Kelembagaan

Aspek kelembagaan sering kali menjadi titik terlemah desa wisata. Padahal, kelembagaan adalah penopang utama keberlanjutan jangka panjang. Desa wisata yang berkelanjutan memiliki struktur organisasi yang jelas, aturan yang disepakati, dan mekanisme regenerasi yang berjalan.

Kelembagaan yang kuat memungkinkan desa wisata bertahan menghadapi perubahan. Pergantian pengurus, dinamika kebijakan, atau perubahan tren wisata tidak langsung mengguncang seluruh sistem.

Dengan kelembagaan yang sehat, desa wisata tidak bergantung pada satu atau dua tokoh. Ia menjadi milik bersama yang dijaga secara kolektif.


Penutup: Desa Wisata Tidak Kekurangan Potensi, Tapi Kekurangan Sistem

Desa wisata di Indonesia tidak kekurangan potensi. Alam, budaya, dan cerita lokal tersebar di hampir setiap sudut negeri. Namun, potensi tanpa sistem hanya akan menjadi janji yang tidak pernah terwujud.

Masalah utama desa wisata bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana ia dikelola, didampingi, dan dihubungkan ke pasar. Desa wisata yang berjalan sendiri, tanpa arah dan ekosistem pendukung, akan sulit bertahan dalam jangka panjang.

Pengembangan desa wisata membutuhkan kesabaran, pembelajaran berkelanjutan, dan kerja kolektif. Ia bukan proyek singkat, melainkan proses transformasi sosial dan ekonomi desa.

Banyak desa wisata tidak gagal karena alamnya, tetapi karena berjalan sendirian tanpa sistem dan pendampingan yang memadai.

3 thoughts on “Desa Wisata : Pengertian, Tantangan, dan Strategi Pengembangan yang Benar

  1. Pingback: Desa Wisata Sepi Pengunjung: Salah Promosi atau Salah Konsep? - iftaindonesia.org

  2. Pingback: Desa Wisata yang Berkembang Itu Dibangun, Bukan Diresmikan - iftaindonesia.org

  3. Pingback: Pola Desa Wisata yang Naik Kelas karena Pendampingan - iftaindonesia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *